Memori Tri Hari Suci 2010
| Apr 8, ‘10 6:09 AM for everyone |
Tanggal 30 Maret lalu ada yang sangat berbeda dari biasanya dalam keluargaku. Biasanya waktu tersebut adalah ulang tahun mama dan tahun ini menjadi semakin penting karena nenekku berpulang ke YME. Sedih memang sedih, namun harus diterima. Keesokan harinya kira-kira jam 10 pagi saya, mama, kemenakan beserta 2 orang sepupu pergi mudik ke kampung Long Bagun untuk mengikuti penghormatan terakhir mendiang nenek yang mempunyai nama lengkap Veronika Kavung Da’a.Dengan menempuh perjalanan darat selama 7 jam kami tiba di Barong Tongkok. Kami menginap semalam, kemudian melanjutkan perjalanan esok harinya.Kira-kira jam 8 pagi kami bergerak menuju Tering Lama untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speedboat. Speedboat yang biasanya mulai berangkat pukul setengah sembilan, tapi kali ini harus menunggu hingga kuota penumpang terpenuhi. Saya, Mama, Kak Sinta dan Dik Sisil baru bisa berangkat menjelang pukul sepuluh. Tarif penumpang menuju Long Bagun adalah 300 Ribu rupiah/orang.
Sepanjang perjalanan menuju Long Bagun, suguhan panorama alam begitu indah mulai dari riak air sungai Mahakam, Hamparan hutan di perbukitan, pohon-pohon duku dipinggiran hutan yang tengah berbuah hingga Batu dinding. Amboi.
Kurang lebih selama 4 jam tibalah kami di Long Bagun. Kedatangan kami disambut oleh beberapa kerabat, masing-masing digandeng oleh kerabat menuju rumah duka. saya sendiri digandeng oleh kemenakan bernama Ocha. Bunyi orang menumbukkan alu ke lesung sebagai tanda kedatangan kami kerumah duka telah terdengar kira-kira dari jarak 100 meter menuju rumah duka. Dalam bahasa Dayak Aoheng kegiatan menumbukkan alu ke lesung menyambut kerabat ini disebut nako. Saya sangat deg-degan menuju rumah duka, mau menangis tapi masih ditahan-tahan. Sesekali saya memperhatikan mama, karena takut dia terlalu sedih dan lemah.
Masuk kedalam rumah, kami langsung berhadapan dengan peti jenazah nenek yang terbuat dari batang pohon kayu, isak tangis tak dapat dihindari lagi dan kesedihan pun melanda. Dikampung tradisi adat masih dijalankan dengan baik. diatas peti jenazah di pajang benda-benda mendiang nenek yang beberapa diantaranya akan dikuburkan bersama nenek seperti stelan pakaian adat, seraung, dayung, rokok, sirih dan lain-lain. Barang-barang itu dimaksudkan untuk menyertai perjalanan mendiang menuju ke surga dan merupakan tradisi khas dayak.
Ada pula koin cina kuno yang juga dipajang dan akan diwariskan kepada Om Pius, adik mama yang kelak digunakan sebagai materi lamaran pernikahan anak laki-lakinya.
Saya disuruh mama untuk menaruh sirih di piring yang ada diatas peti dan Tante Bulan menyuruh saya berbicara seperti ini, “akek ini sirih buat akek, tolong kasih tau hari baik buat kami mengubur “. Memang banyak perkataan-perkataan yang buat saya belajar selama disana berkenaan berpulangnya nenek. Ada cerita bahwa paman-paman saya harus mengulang hingga 4 kali untuk membuat peti mati dan berhasil setelah salah seorang paman minta permisi pada nenek. Ada juga tante yang berbicara pada lalat-lalat yang terbang di sekeliling peti jenazah, “Kalian pergi saja, besok kami bawa dia ke kubur”. Sekejap lalat-lalat itu pergi.
Memang terkesan lain dari biasanya, tapi begitulah biasanya yang terjadi dan sangat dipercaya oleh masyarakat pedalaman yang sangat dekat dengan kekuatan alam.
Jenazah nenek dimakamkan pada hari Jum’at Agung jam 3 sore, upacara pemakamannya dipimpin oleh Suster Albertha, MASF.
Begini status update facebook saya dihari nenek berpulang ”
Hillarry Oya Lavon Aring Ada yg memulai,ada yg mengakhiri.ada yg tersembuhkan,ada yg tersakiti.tp untunglah sdh ditebus lbh dahulu.selamat jalan nenekku..aku slalu mengingatmu (kisah semangkuk sayur dan sebatang rokok)
In Loving Memory of Veronica Kavung Da’a (March, 30 , 2010)
SAY IT WITH BLOG WRITING CONTEST: Chilli Jagoanku
Cinta itu luas dan melibatkan berbagai mahluk ciptaan Tuhan dan aku belajar tentang cinta bukan hanya dari kata-kata yang tercetus dari mulut dan perilaku sesamaku, tetapi aku juga berusaha memahami cinta dari mahluk yang berbulu suka mengendus, menjilat, bersuara khas “guk guk guk”. Cintaku takkan pernah habis untuk hewan yang punya nama umum anjing ini. Dari hewan ini aku belajar bahwa cinta itu melibatkan kepedulian, pengertian yang lebih, kesetiaan juga ketulusan hati dan pengorbanan.
Dari masa kanak-kanak aku sangat dekat dengan anjing. Tak peduli jenis apa, aku merasa anjing adalah teman baikku dan aku tidak segan berbicara dengan anjing, meski mereka tidak bisa membalas dengan tutur kata yang sepadan namun goyang ekornya membalas sapaan dan pertanyaanku adalah ungkapan tulus yang membuat hatiku senang. Berkali-kali aku sudah pernah memelihara anjing, lebih dari 30 ekor pernah ku pelihara.
Ada satu ekor anjing peliharaanku yang istimewa namanya Chilli, berumur 10 tahun dan Chilli adalah jenis anjing Peking campuran. Chilli adalah pahlawanku yang berkarakter sensitif, cepat marah, cepat stress, cukup gesit dan sangat berani. Chilli menggoreskan pengalaman cinta tak ternilai tidak hanya untukku tapi juga keluargaku dengan pengorbanan nyawanya.
Tahun 2008 saya sempat tinggal didaerah pinggiran kota Samarinda yang berdekatan dengan hutan. Kebetulan rumah tempat tinggalku berdampingan dengan sebuah aliran sungai kecil, kurang lebih dua meter dari samping kiri rumah. Karena berdekatan dengan hutan, jadi kehadiran anjing benar-benar perlu sebagai teman penjaga rumah. Setidaknya anjing-anjing bisa memberi isyarat kalau ada orang asing, hewan-hewan lain yang tidak mereka sukai. Saya paling ngeri dan takut dengan ular. Selama tinggal ditempat itu, tiga kali rumah pernah kemasukan ular sawah lewat dapur pada malam hari dan alhasil diserang oleh anjing-anjing peliharaanku terutama Chilli hingga hewan melata itu mati.
Suatu siang, tanggal 3 Mei, saya ditinggal dirumah bersama anjing-anjing itu sembari menonton televisi, tiba-tiba saya mendengar bunyi salakan anjing yang sangat keras dari belakang rumah. Saya menduga pasti ada ular yang digonggong anjing-anjing itu. Dugaanku benar dan memang ada ular berwarna hitam berukuran tidak besar sedang berhadapan dengan Chilli. Saya sangat kaget ketika melihat gerakan ular yang sangat cepat itu sempat menggigit Chilli dan terkena pada bagian kiri mulut anjing itu. Gerakan ular hitam itu sangat mirip dengan ular Cobra dan belakangan aku tahu bahwa ular hitam yang didaerahku disebut ular tedung itu masih satu famili dengan ular Cobra. Chilli benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya, walau sudah tergigit dia tidak menyerah bahkan sampai akhirnya ular itu mati digigitnya.
Setelah menundukkan ular hitam, Chilli berlari dan berbaring di sebuah laci terbuka tempat dia biasa tidur. Perasaanku semakin cemas, karena dengan jelas aku melihat Chilli di gigit ular tadi dan ular itu bukan ular sawah yang tidak berbisa gigitannya. Pikiranku sangat kacau karena aku tidak tahu cara mengatasi gigitan ular berbisa dan muncul perasaan bahwa aku akan kehilangan Chilli. Ku temui dia yang masih menggoyangkan ekornya ketika ku panggil namanya. Aku hanya bisa bicara “Chilli terima kasih” dan air mataku mengalir eagitu saja menatap matanya yang terus-terusan berkedip seperti menahan sakit “maaf Chilli, aku ga tau harus berbuat apa lagi” isakku sangat sedih.
Selang setengah jam saja Chilli sudah tergeletak kaku, tak bernafas dan aku benar-benar merasa kehilangan. Ku gendong Chilli yang mati dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Ku panggil namanya seolah anjing itu masih hidup dan seperti meyakinkannya lagi aku ucap “terima kasih Chilli, kamu teman terbaik yang pernah aku miliki. Ku belai kepala teman baikku itu untuk sesaat, kemudian ku baringkan karena aku berpikir harus menelpon mama, papa dan kakakku untuk bertestimoni tentang perjuangan temanku yang sudah menjaga aku dari serangan ular berbisa.
In loving memory of Chilli, “never forget you my little guardian”
Filed under Tak Berkategori | Comment (1)
Halo dunia!
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!
Filed under Tak Berkategori | Comment (1)